PRIBAHASA YANG SERING DILUPAKAN


  Ibarat kata pribahasa “Gajah di pelupuk mata tak tampak. Tapi, semut di seberang lautan tampak. Inilah yang sering kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki kesempurnaan dari ciptaan lainnya. Namun, kita sering lupa menggunakan kesempurnaan tersebut untuk melihat dan mencela diri sendiri. Setiap saat, kita tentu pernah membuat sebuah kesalahan. Namun, kita selalu mengkedepankan ego kita dalam menyingkapinya. Sehingga dengan demikian kita lupa untuk intropeksi diri. Bahkan kita senantiasa menyalahkan keadaan. Kita sebagai makhluk sosial yang berinteraksi satu dengan yang lainnya dan kita sangat dituntut untuk berlaku dengan semestinya. Dalam interaksi yang kita jalani tentu kita sering mendapati kesalahan orang lainnya namun, kesalahan kita sendiri sering kita abaikan.

    Ibarat pribahasa diatas, kita lebih cenderung dengan mudahnya melihat, mengubarkan, menceritakan kesalahan, kekurangan, aib orang lain. Akan tetapi, kita sangat sulit menemukan bahkan melihat kekurangan, kesalahan dan aib yang kita miliki. Bahkan  dalam keseharian kita sibuk dengan menceritakan kesalahan, aib dan kekurangan orang lain. Kita lupa mereka yang kita umbarkan aibnya juga saudara kita. Kita lupa kalau kita sama-sama makhluk ciptaan Tuhan, kita lupa kalau asal kejadian kita sama-sama dari setetes air yang hina, namun, kita dengan bangga mencaci, mengumbar kesalahan, kekurangan maupun aib orang lain yang juga merupakan saudara kita. Bahkan terkadang kita mencari-cari titik kesalahan orang lain dengan berbagai cara. Kita terlalu menyibukkan diri dengan hal-hala yang bisa membuat kita berlumur dosa. Istilah pada saat sekarang ini kita terlalu “KEPO” dengan kehidupan orang lain. Bahkan ada hal yang tidak seharusnya kita urusi kita malah ikut campur.

        Tapi, sebaliknya kita lupa untuk bercermin. Kita lupa menghayati dan melihat diri kita sendiri. Mari kita sama-sama melihat diri kita di depan cermin kita bayangkan betapa banyak kesalahan, kekurangan, aib yang ada dalam diri kita. Tapi kenapa kita selalu sibuk dengan aib orang lain, kenapa ? tentu kita sendiri yang bisa menjawabnya. Sebelum kita melihat kesalahan dan kekurangan lain, lihat dulu kekurangan dan kesalahan yang ada dalam diri kita. Jika kita mampu untuk melihatnya tentu kita akan berusaha untuk menutupi dan melengkapi kesalahan dan kekurangan yang dimiliki oleh orang lain yang juga saudara kita. Di era perkembangan teknologi informasi saat ini mengumbar dan mencari kesalahan dan kekeurangan orang lain sangatlah mudah. Tapi, apakah fungsi dan kegunaan teknologi tersebut untuk mencari hal demikian. Jika Ia sungguh miris kita sebagai makhluk social yang memiliki norma dan etika. Dimana kita letak norma dan etika yang kita yakini. Apakah dengan berkembangnya teknologi informasi dan perubahan zaman norma dan etika yang kita miliki kita tinggalkan begitu saja…? Jika memang kita berprinsip demikian tentu sangatlah sulit untuk melihat kesalahan, kekurangan, aib yang ada dalam diri kita. Jika kita senantiasa melakukan hal demikian bagaimana dengan anak keturunan kita yang nantynya generasi penerus bangsa. Tentu mereka lebih jauh lebih hebat dari kita dalam mencari kesalahan dan kelemahan orang lain dan lupa untuk melihat diri sendiri. Berusahalah untuk menjadi pribadi yang menjunjung tinggi norma maupun etika dalam berinteraksi dengan yang lainnya. Lengkapi dan sempurnakan kesalahan, kekurangan yang dimiliki oleh orang lain
   

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...