Cacatan Perjalanan-Metodologi Penelitian

Minangkabau merupakan bagian wilayah Sumatera Barat yang meliputi dua kawasan utama, yaitu luhak dan rantau. Luhak adalah tempat untuk mengambil air minum dan air mandi, sedangkan Rantau merupakan hilir dari luhak (Datuak Batuah, 1956:16-17). Kedua kawasan itu terdiri atas Luhak Nan Tigo dan Rantau Nan Duo. Daerah Luhak Nan Tigo terdiri atas Luhak Tanah Datar sebagai daerah tertua (Luhak Nan Tuo), Luhak Agam sebagai Luhak Tengah, dan Luhak Limo Puluh Koto sebagai Luhak Nan Bungsu. Masing-masing Luhak itu memiliki ciri dan identitas sendiri dalam hidup sosial budaya. Luhak Tanah Datar diibaratkan buminyo lapang, aianyo tawa, ikannyo banyak, artinya buminya lapang, airnya tawar, ikannya banyak, dan warna kuning benderanya; ditafsirkan sebagai masyarakat yang ramah, suka damai, dan sabar. Luhak Agam diibaratkan buminyo angek, aianyo karuah, ikannyo lia, artinya buminya panas, airnya keruh, ikannya liar, dan warna merah benderanya merupakan simbol akan penduduknya yang keras hati, berani, dan suka berkelahi. Luhak Limo Puluh Koto diumpamakan buminyo sajuak, aianyo janiah, dan ikannyo jinak, artinya buminya sejuk, airnya jernih, dan ikannya jinak, dan berwarna biru benderanya merupakan simbol masyarakat yang punya kepribadian berhati lembut, tenang, dan suka damai. Rantau Nan Duo adalah daerah perluasan dan perkembangan penduduk dari Luhak Nan Tigo, yaitu daerah yang berada di sekitar aliran sungai ke sebelah timur dan selatan.
Kuliah lapangan merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan oleh pihak kampus ISI Padangpanjang yang dilakukan pada tanggal 11 November 2016, sesaat akan dimulainya perjalanan menuju kabupaten solok selatan, seluruh mahasiswa pascasarjana berkumpul dahulu di depan halaman gedung pascasarjana untuk mendengarkan arahan dan nasihat oleh bapak Rektor ISI Padangpanjang bapak Prof.Dr. Novesar Jamarun setelah nasihat dan arahan selesai diberikan oleh bapak Rektor, maka mahasiswa Pascasarjana pun mulai menuju bus dan berangkat ke kabupaten Solok Selatan.
Setibanya di Kabupaten Solok Selatan kami beserta rombongan disambut oleh bapak Bupati Kabupaten Solok Selatan, bapak H. Muzni Zakaria, M. Eng, dan mendengarkan beberapa buah kata sambutan yang diberikan oleh bapak Dr. Febri Yulika S.Ag, M.Hum Selaku bapak camat Kabupaten Solok Selatan, setelah selesai mendengarkan kata sambutan oleh bapak Dr. Febri Yulika S.Ag, M.Hum Selaku bapak Camat Kabupaten Solok Selatan kami bergegas menuju ke Kawasan Saribu Rumah Gadang yang berada pada Kabupaten Solok Selatan. Setelah tiba pada Kawasan Saribu Rumah Gadang kami telah disambut oleh bapak Irza, ST, beserta Istri dan Keluarga selaku pemilik rumah gadang untuk bermalam dan  menanyakan beberapa pertanyaan tentang rumah gadang serta asal-usul rumah Gadang dan Datuk. Pertanyaan pertama yang saya tanyakan adalah mengenai Basri Datuk Raja Batuah ...?
Basri Datuk Raja Batuah merupakan gelar yang diberikan oleh masyarakat minang sebagai pemimpin dalam Suku Panai, dalam sistem pemilihan Datuk Baru haruslah dipilih dari garis keturunan Ibu, Basri Datuk Raja Batuah merupakan seorang pemimpin dalam segi keagamaan serta terdapat pula suatu kerajaan yang bernama Tuanku Rajo di Sambah, Tuanku Rajo Disambah  sendiri merupakan seorang pemimpin dari Sungai Pagu Muara Labuh, dan Tuanku Rajo di sambah juga memiliki empat pembantu dalam segi pemerintahannya dan  jika di dalam politik sekarang ini disebut sebagai menteri-menteri dalam pemerintahan.   
Pertanyaan Kedua adalah definisi dari Salin Baju?
“Salin Baju merupakan sebuah upacara adat yang dilakukan masyarakat minang untuk mencari pengganti datuk yang baru, pergantian datuk dilakukan apabila datuk tersebut meninggal dan diturunkan, dan upacara tersebut dilakukan dengan menggunakan upacar penyembelihan hewan yang berkaki empat seperti, lembu, kerbau, kambing serta hewan yang berkaki empat lainnya, jika pada masyarakat minang mereka sudah menggunakan hewan kerbau sebagai hewan kurban penyembelihan dalam acara salin baju, dan datuk yang terpilih haruslah dari garis keturunan ibu. Kriteria dalam pemilihan datuk dalam adat minang dimulai ketika seseorang yang bersangkutan sudah dapat mengambil sebuah keputusan dan didalam istilah minang terdapat pepatah seperti kecil banamo besar bagadang.”
Pertanyaan selanjutnya adalah definisi Muara Labuh, Rumah Gadang dan Fungsi dari Rumah Gadang tersebut ...?
“Muara Labuh juga memiliki arti yaitu pada zaman dahulu memiliki sungai yang mempunyai suatu pusaran air, yaitu tempat berlabuhnya semua orang-orang pada zaman dahulu. Rumah gadang merupakan sebuah sebutan untuk rumah adat Minangkabau. Rumah ini memiliki keunikan bentuk arsitektur yaitu dengan atap yang menyerupai tanduk kerbau dan dibuat dari bahan ijuk, dan dihalaman depan rumah gadang sendiri mempunyai dua buah bangunan yang disebut rangkiang. Rumah gadang sendiri dibangun diatas tanah yang bersangkutan , jika hendak didirikan, penghulu dari suatu kaum tersebut mengadakan musyawarah terlebuh dahulu dengan anak kemanakannya. Setelah dapat kata sepakat dibawa kepada penghulu – penghulu yang ada di Nagari tersebut, untuk mencari kayu diserahkan kepada orang kampung dan sanak keluarga. Tempat mengambil kayu pada hutan Ulayat Suku atau Ulayat Nagari. Tukang yang mengerjakan rumah Gadang tersebut merupakan bantuan dari tukang-tukang yang ada dalam Nagari atau diupahkan secara berangsur-angsur.
Rumah Gadang sendiri juga mempunyai fungsi diantaranya yaitu tempat berundingnya suatu kaum serta tempat iringan adat, seperti menetapkan adat atau tempat melaksanakan seremonial adat seperti kematian, kelahiran, perkawinan, mengadakan acara kebesaran adat dan tempat mufakat lainnya. Selain itu apabila kita berkunjung ke Rumah Gadang masayarakat Minang mengatakan bahwa kita adalah kaum pendatang pada daerahnya serta kaum pendatang tersebut harus duduk pada tengah-tengah dan menghadap keluar, itu menandakan bahwa kita adalah kaum pendatang. Selain mempunyai fungsi, rumah Gadang tersebut tidak serta merta diberikan kepada anak laki-laki, melainkan kepada anak perempuan karena anak laki-laki hanya berfugsi sebagai penjaga rumah tersebut”.
Pertanyaan selanjutnya adalah Tradisi apa saja yang dilakukan oleh masyarakat minang, setelah menikah serta mengenai fungsi dari bedug ?
“Tradisi pada masyarakat minang apabila mereka sudah menikah mereka harus tidur pada kamar pertama untuk anak perempuan pertama dan begitu seterusnya dan pada tradisi masyarakat Minang juga mereka mempunyai tradisi yang bernama mendoa yaitu segala sesuatu harus melakukan doa, seperti penyambutan bulan ramadhan, hari raya dan bahkan jika merekan ingin merantau, pembagian harta pusaka pada adat Minang sepenuhnya di berikan kepada anak perempuan dan didalam istilah Minang laki-laki hanya menjaga harta pusaka serta anak perempuan berfungsi untuk membawa harta pusaka.
Bedug atau tabuh pada masyarakat minang mempunyai fungsi sebagai alat komunikasi atau informasi kepada seluruh masyarakat minang terhadap suatu musibah seperti kematian, pencurian dan lain sebagainya, karena pada zaman dahulu belum adanya alat-alat komunikasi seperti , speaker, radio dan alat komunikasi lainnya. Turun ke sawah merupakn sebuah tradisi masyarakat minang yaitu berdoa secara bersama-sama untuk masa panen agar tidak rusak ataupun terserang hama pemyakit serta menggunakan hewan kerbau dalam melaksanakan upacara turun sawah tersebut, upacara turun ke sawah tersebut juga dihadiri oleh 148 datuk. Setelah mendengarkan beberapa penjelasan yang saya ajukan oleh bapak Irza, ST. Maka tibalah kami melihat beberapa pertunjukan seni yang ditampilkan oleh beberapa sanggar seni yang ada pada Kabupaten Solok Selatan untuk menampilkan beberapa tarian , setelah melihat beberapa tarian yang dipersembahkan oleh beberapa orang kesenian tibalah kami pulang untuk beristirahat dan melanjutkan perjalanan menuju Nagari Abai Kabupaten Solok Selatan untuk melihat kesenian yang ada pada daerah tersebut, setelah tiba pada pada Nagari Abai tersebut kami disuguhkan oleh tari penyambutan yang dilakukan oleh anak-anak remaja pada daerah tersebut,  setelah melihat dan menyaksikan tari pasambahan tersebut timbullah beberapa pertanyaan. 
Gambar 1. Tarian Pasambahan Nagari Abi
(Sumber : Dok. Pribadi. 2016)

Pertanyaan pertama yang saya ajukan adalah, apa nama dari tari penyambutan tersebut..?
Menurut ibu Nurmala selaku warga sekitar tarian tersebut bernama tari Pasambahan tarian tersebut bernama tari Pasambahan yang berarti penyambutan oleh warga sekitar terhadap tamu pendatang.
Mengapa Tarian Pasambahan tersebut dimainkan oleh anak remaja laki-laki dan  mengapa bukan orang tua?
Karena untuk menghidupkan budaya Minang terutama pada Kabupaten Nagari Abai yang telah lama mati agar hidup kembali dan melestarikan budaya tarian tersebut.
Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa tarian tersebut menggunakan pedang, bukankah pedang tersebut merupakan alat yang berbahaya..?
Digunakannya alat seperti pedang tersebut berfungsi sebagai pelindung atau penjaga, karena menurut warga tersebut anak laki-laki berfungsi sebagai penjaga.
Setelah melihat dan menyaksikan persembahan tari yang dilakukan oleh warga Nagari Abai tersebut kami melanjutkan perjalanann kesalah satu rumah gadang terpanjang yang memiliki 21 kamar yang terdapat di daerah Nagari Abai. Berikut foto rumah gadang tampak dari luar.
Gambar 2. Rumah Gadang Nagari Abai
(Sumber : Dok. Pribadi. 2016)
  

Berlangganan update artikel terbaru via email:

1 Response to "Cacatan Perjalanan-Metodologi Penelitian"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...