Anak Aset Masa Depan-Stop Pamer Raport


Akhir tahun 2019 banyak momen yang sudah dilalui. Momen tersebut dapat berupa duka maupun suka. Salah satu bentuk momen tersebut adalah prosesi penerimaan raport bagi para peserta didik. Dalam momen penerimaan raport tersebut setiap peserta didik sangat gembira karena akan menyambut liburan akhir tahun agar lebih terasa fresh selama enam bulan bergelut dibangku sekolah. Ketika penerimaan raport tentu ada siswa maupun siswi yang mendapatkan rangking dan ada yang tidak. Namun itu bukan lah sebuah ukuran kecerdasan seorang anak. Mungkin selama ini banyak orang tua, kalangan mengukur, melihat kecerdasan seorang anak dari rangking yang mereka peroleh disaat menduduki bangku sekolah. Kita sering melihat di akun sosial media banyak orang tua membagikan nilai raport anak-anaknya mendapatkan juara satu, dua, dan tiga. Bahkan bagi anak-anak- yang tidak mendapatkan rangking orang tuanya malah membentak dengan kata-kata yang tak pantas diucapkan. Jadi mulai sekarang STOP mengukuri kecerdasan anak dari nilai raport. STOP membentak anak jika dia belum mendapatkan sesuai dengan keinginan ayah bunda. Karena kita membentak mereka bisa-bisa aspek psikologis anak bisa terganggu.
Raport merupakan bentuk dari progress laporan pembelajaran yang berisi perkembangan peserta didik selama satu semester. Ketika orang tua sudah menerima raport hasil pembelajaran alangkah baiknya sebagai orang tua bertanya kepada anaknya tentang kesehariannya disekolah, peleajaran yang disukai, ataupun guru yang disukai. Kenapa demikian. Karena aspek yang disukai oleh seorang anak terkadang sangat membawa dampak terhadap nilai akhir yang mereka peroleh. Proses belajar seorang anak sangat erat kaitannya dengan hasil kerja mental emosional yang dikenal dengan EQ. Selain itu, ada kontribusi kemampuan Kognitif sang anak yang disebut dengan IQ yang berfungsi merespon pada saat mengikuti proses pembelajaran sehingga akan berdampak terhadap nilai akhir yang akan diperoleh. Jadi kita sebagai orang tua juga harus ikut serta memperhatikan hal-hal tersebut dan jangan hanya mampu memaksa kehendak.
Selain itu, untuk melihat potensi seorang anak orang tua harus peduli terhadap hasil nilai yang tercantum didalam Raport anak. Perhatikan mana nilai yang paling tinggi dan mana nilai yang paling rendah. Akan tetapi, kebanyakan orang tua tidak memperdulikan hal tersebut. Padahal hal tersebut sangat penting diperhatikan agar bisa mengarahkan potensi yang dimiliki oleh seorang anak. Perlu kita ingat, tidak ada seorang anak yang diciptakan oleh Allah yang tidak memiliki potensi, dan tidak ada anak yang diciptakan itu bodoh. Tetapi, kita sebagai orang tua yang tidak memperdulikan itu, sehingga kemampuan seorang anak yang sudah diberikan oleh Allah terpendam begitu saja, dan dengan mudahnya kita mengatakan mereka dengan sebutan Bodoh. Sekali lagi perlu kita ingat bahwa semua anak Pintar, Berpotensi dan tidak bodoh.
Ketika kita sudah melihat ada nilai tertinggi dari semua matapelajaran itulah sebuah bukti kalau anak memiliki potensi. Karena apa… ? karena dengan kemampuan EQ dan IQ nya dia mampu mengikuti semua pelajaran yang diberikan oleh guru yang paling dia sukai.  Bersyukurlah mereka masih bisa mendapatkan nilai tinggi dari sekian matapelajaran. Beri mereka apresiasi dan jangan menghakimi mereka dengan kata-kata yang tak pantas mereka terima. Selain itu, ajari anak kita untuk senantiasa menjadi orang yang bersyukur dan terus berusaha untuk memperbaiki nilai-nilai yang rendah. Kenapa demikian, kita sebagai orang tua terkadang terlalu sering memaksa kehendak sehingga kita lupa untuk menanamkan kecerdasan spiritual (SQ) terhadap mereka. Ingat kembali mendidik anak kita bukan hanya tugas seorang guru tapi guru pertama mereka adalah orang tua mereka sendiri. Ketika mereka sudah pulang dari sekolah anak menjadi tanggung jawab orang tuanya.
Oleh karena itu, tanamkan serta kuatkan fondasi jiwa maupun mental mereka. Ajari mereka agar senantiasa berlapang dada menerima segala sesuatu. Jangan bentak mereka karena akan membuat Kecerdasan Spritual mereka akan hilang begitu saja. Perlu diingat bahwa setiap hamba Allah tentu memiliki banyak kelebihan maupun kelemahan dan kekurangan. Jadi ayah dan bunda perhatikan dan tanamkan nilai-nilai EQ, IQ, dan SQ terhadap anak kita dan jangan jadikan nilai Raport sebagai ukuran kecerdasan seorang anak. Manusia diciptakan oleh Allah memiliki otak yang dibagi menjadi otak kiri dan kanan. Setiap bagian tersebut memiliki peran dan kemampuan masing. Untuk itu, sangat penting orang tua memperhatikan nilai-nilai Raport dari sang anak agar diketahui mereka lebih dominan diotak yang mana.
Ingat ya ayah/bunda jika seorang anak nilainya tinggi dimatapelajaran seperti matematika, IPA, fisika,kimia, biologi, Teknik, dan sejenisnya berarti anak kita lebih dominan terhadap Otak Kiri. Jadi kita sebagai orang tua arahkan terus potensi mereka terhadap kemampuan yang mereka miliki walupun mereka tidak mendapatkan rangking dikelas. Jika anak ayah/bunda lebih dominan terhadap Bahasa, seni, IPS, dan sejenisnya berarti mereka lebih dominan terhadap Otak Kanan. Jadi, jangan beratkan mereka dengan kemampuan yang tidak mereka miliki. Jika kita paksakan mereka akan terbebani dengan hal-hal yang tidak mereka sukai. Ujung-ujungnya mental mereka akan terganggu karena perbuatan kita sendiri yang tanpa kita sadari.
Mulai sekarang STOP memamerkan nilai Raport anak, STOP membandingkan mereka dengan yang lain, STOP menjadikan rangking sebagai patokan, karena rangking belum tentu seorang anak akan menjadi sukses. Raport yang bernilai rendah bisa diperbaiki dan dievalusi disemester berikutnya. dan mari ajarkan mereka untuk lebih mencintai aktivitas yang mereka sukai seperti membaca, menulis, melukis, berhitung, dan sebagainya. Dengan demikan mereka bisa memadukan kecerdasaran EQ, IQ, dan SQ yang ada dalam diri mereka. Ketika mereka memiliki hal tersebut tentu suatu saat mereka akan menjadi orang yang hebat yang mampu melahirkan karya yang baik dan menjadi insan yang berdedikasi dan memiliki integritas dalam dirinya dan lain-lain. Sekali lagi STOP pamer rangking, Nilai Raport, Membandingkan Mereka dengan Yang lainnya. Anak anda adalah aset masa depan, anak anda adalh anugerah terbaik dari Allah, anak anda adalah orang-orang hebat dari sekian banyak orang di dunia ini, anak anda memiliki potensi tuk dikembangkan, jangan bentak dan menghakimi mereka. Pintar bukan jaminan tuk menjadi orang sukses, bodoh tak menjadi penghalang tuk menjadi orang sukses. Perlu kita ingat sebagai orang tua bahwa dipenghujung sana ada secercah harapan yang menanti anak-anak kita.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

1 Response to "Anak Aset Masa Depan-Stop Pamer Raport"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...