Santri Juga Bisa


Jika kita pernah mondok dan belajar disebuah Lembaga yang disebut dan dikenal dengan Pondok Pesantren tentu kata Santri maupun tidak asing lagi di telinga kita. Kata tersebut dijadikan sebuah panggilan bagi orang-orang yang mondok dan belajar ilmu agama disebuah Pondok Pesantren. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang dikatakan dengan sebutan Santri adalah orang-orang yang sedang belajar dan menuntut ilmu agama Islam. Dalam pengertian lain  ada yang mengatakan kalau Santri merupakan seseorang yang selalu setia mengikuti instruksi dari guru-gurunya. Intruksi-instruksi tersebut jika dihayati memiliki maksud yang sangat dalam. Bahkan ada terkadang seorang guru memberi intruksi diluar nalar. Akan tetapi, setiap instruksi yang diberikan tentu di dalamnya memiliki maksud dan tujuan, seperti agar seorang santri mengetahui dan memahi arti sebuah kehidupan, agar mengetahui kalau segala sesuatu yang diinginkan harus dicapai dengan tekad yang kuat dan diiringi dengan doa yang tulus kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bagi seorang yang pernah menjadi seorang Santri tentu pernah mengalami hal-hal demikian.
Jika kita telusuri lebih jauh sangat banyak pendapatan para ilmuan yang ahli dibidangnya memberi pengertian akan kata Santri tersebut. Ketika kita pernah mondok dan mnimba ilmu disebuah Lembaga Pendidikan yang dikenal dengan Pondok Pesantren tentu berbagai jenis filosofi tentang Santri itu sering kita dengar. Adapun bentuk filosofi tersebut seperti berikut; Saafiqul Khoir “pelopor dalam kebaikan”, Naasibul ‘Ulamak “Penerus para Ulama”, Taarikul Ma’ashi “Meninggalkan berbagai jenis maksiat”, Ridhollahi “Ridho Allah”, Al-yaqiinu “ Memiliki Keyakinan”. Seorang Santri harus senantiasa menanamkan jiwa-jiwa seorang pemimpin dalam dirinya dalam mengemban tugas sebagai pelopor kebaikan, tetap berusaha menjauhkn diri dari segala larangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menjalankan segala yang di perintahkan Nya. Karena setiap orang adalah pemimpin bagi diri sendiri, keluarga dan sebagainya. Dan suatu saat nanti kepemimpinan itu akan di pertanyakan dan ditangih jika waktu nya sudah tiba. Ketika menimba ilmu pengetahuan dari para ulama-ulama tentu ulama-ulama tersebut menginginkan suatu saat nanti para Santri nya bisa dan mampu menjadi penerus beliau. Untuk menjadi penerus seorang ulama tentu banyak rintangan yang harus dilalui. Seperti rajin beribadah, taat dan memiliki adab sopan santun etika terhadap para guru-ulama dan sebagainya tetapi dia tetap sabar tentu suatu waktu Allah Subhanahu Wa Ta’ala meninggikan derajatnya sebagai orang-orang yang berilmu ditengah-tengah masyarakat. Seseorang santri juga sangat dituntut untuk dapat menjauhkan berbagai maksiat yang dilarang agama. Larangan tersebut berlaku di setiap diri manusia dimanapun berada. Selain itu, seorang Santri harus memupuk rasa keyakinan dalam dirinya. Dengan adanya keyakinan yang terpupuk dalam diri seorang Santri tentu suatu saat akan membawa keberuntungan dalam kehidupannya. Mungkin kita sering mendengar bahwa seorang penuntut ilmu akan senantiasa diberi kecukupan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam segala aspek kehidupannya. Dalam filosofi lain, kata Santri berasal dari Bahasa inggris yang berarti SUN “Matahari” Three “Tiga”. Jika ditarik kesimpulan berarti Santri merupakan kumpulan tiga matahari. Jika kita kaitkan dengan keyakinan beragama khusunya yang Bergama islam bahwa arti Santri dengan Tiga Matahari tersebut merupakan Pilar ataupun Pondasi dalam berkeyakinan yang terdiri dari;  Iman, Islam, dan Ihsan.
Ada sebuah cerita tentang dunia Santri dan tentunya diantara kita pernah mendengar kata-kata tersebut. Kata-kata tersebut merupakan sebuah Mutiara yang terpendam yang mampu menjadi cambukan motivasi terhadap diri seorang Santri. Kata tersebut kira-kira berbunyi seperti berikut, “ untuk apa mondok di Pesantren dan menjadi Santri, memangya mau jadi apa ketika sudah mondok dan jadi Santri, apa ada pekerjaan yang pantas diterima ketika menjadi seorang Santri, apa bisa Santri kuliah, apa bisa Santri kerja di berbagai sektor instansi Pemerintahan maupun Swasta, apakah Santri punya kehidupan yang cerah dan jelas dimasa depan, dan banyak lagi kata-kata Mutiara yang sering  terdengar untuk para Santri. Jika  kita lihat disekililing kita kata-kata tersebut sudah terjawabkan bagi orang-orang yang memahami. Sekarang para Santri alumni Lembaga Pendidikan Islam yang dikenal dengan Pesantren sudah banyak masuk ke berbagai instansi Pemerintahan maupun Swasta. Bahkan para Santri juga banyak menjadi mahasiswa-mahasiswa di Universitas Luar Negeri maupun dalam Negeri. Bahkan ada yang menjadi Mahasantri (Kuliah dan Mondok di Pesantren). Seorang Santri ketika menuntut ilmu disebuah Pondok Pesantren banyak hal yang dipelajari yang sudah digodok berdasarkan kebutuhan dimasa depan. Oleh karena itu, keyakinan harus senantiasa dipegang oleh setiap orang apalagi seorang Santri. Santri memiliki mental seorang penjuang yang sudah terbiasa hidup dalam kekurangan semasa mondok di sebuah Pesantren.
Ketika mondok disebuah Pesantren, Asrama atau Pondok-Pondok kecil berbaris berjejer menjadi saksi bisu bagi para Santri. Asrama atau Pondok-Pondok tersebut diibaratkan dengan Penjara Suci yang menyimpan beribu kenangan manis maupun pahit. Dalam Asrama atau Pondok-Pondok menjadi tempat bercengkrama dengan kitab-kitab kuning, sesama Santri, bahkan dengan para Ustazd-Ustazd. Masjid Pesantren bagaikan tempat berteduh paling nyaman ketika ada problem yang dihadapi. Masjid Pesantren tempat terindah dalam bercengkrama dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Berebutan makanan sangat mengasikkan ketika jadwal makan sudah datang. Antri di lokasi pemandian menjadi monen berharga tentang pentingnya memupuk rasa kesabaran dalam kehidupan. Pergi kenduri merupakan monen yang tidak terlupakan tentang pentingnya solidaritas dan sebagainya. Bermain dan bersenda gurau bersama menjadi momen yang palin menyenangkan dalam menghibur diri. Lomba membaca kitab kuning antar tingkat menjadi momen yang sangat berharga dalam menunjukkan keberanian, keyakinan dan meningkatkan pengalaman dalam bersaing. Dipanggil oleh seorang Kyai, Ustazd, Kakak Asrama/Pondok menjadi moment yang menegangkan. Hari perpisahan menjadi detik-detik yang sangat menyedihkan bagi setiap Santri. Dihari tersebut berbagai Nasehat diberikan oleh para Kyai, Ustazd kepada para Santri tingkat akhir agar menjadi pegangan yang selalu diingat ketika sudah pergi jauh dari didikan mereka dan menjadi tuntunan dalam mengambil langkah. Menjadi seorang santri bukanlah suatu kehinaan dan kenistaan, menjadi seorang Santri bukanlah suatu penghalang, menjadi seorang Santri merupakan suatu kebanggan, menjadi seorang Santri mampu memupuk keyakinan, kesabaran, keikhlasan, dan sebagainya. 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Santri Juga Bisa"

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...