Sejarah Kesultanan Melayu Yang Terlupakan

Hamparan Perak merupakan bagian dari kesultanan Deli yang mana mempunyai kedatuqkan, masjid, serta kerajaan. Kedatuqkan Hamparan Perak dikenal dengan sebutan “Urung Sepuluh Dua Belas Kuta”. Kerajaan Hamparan Perak dahulunya di pimpin oleh Datuq yang bernama Datuk Akkup. Di bawah Pemerintahan Datuq Akkup ini, Rakyatnya sangat Patuh ,suka bergotong royong dan rasa sosialnya sangat tinggi. Menurut cerita apabila mereka mau mendirikan rumah tempat tinggal dan mengerjakan sawah –sawah atau ladang-ladang mereka, selalu dilakukan dengan cara bergotong royong yang dalam bahasa Melayu pada waktu itu disebut namanya urup-urupan artinya hari ini sama-sama mengerjakan milik kita dan besok kita sama-sama mengerjakan milik orang lain ( bekerja sama dan sama-sam bekerja ) sehingga kehidupan Masyarakatnya cukup rukun dan damai dan jarang terjadi permusuhan maupun pertengkaran.

Setelah Datuq Akkup meninggal dunia kepemimpinan kesultanan Hamparan Perak diserahkan seorang Datuq yang bernama Datuq GOMBAK. Silih berganti dan Pemimpin pun terus bergilir dari masa kemasa dan Kampung Pematang Nibung pun semakin hari semakin bekembang baik dari Perkembangan jumlah Penduduknya dan selangkah demi selangkah bertambah maju. Kemudian pada saat Datuq GOMBAK meninggal dunia, menurut cerita orang-orang tua bahwa yang seharusnya Kerajaan dipimpin oleh Datuk HAFIZ HABERHAM sebagai Pewaris Kerajaan, tetapi karena Pewaris Kerajaan ini masih kecil ( berusia muda ) maka untuk sementara Kerajaan terpaksa dipimpin oleh seorang Perdana Menteri yang namanya tidak disebutkan, namun Datuq ini populer disebut dengan Tengku Perdana.
Dan setelah Datuq HAFIZ HABERHAM dewasa, maka beliau dinobatkan sebagai Kepala Pemerintahan Kerajaan Hamparan Perak. Yang mana saat ini kedatuqkan Kesultan Hamparan Perak diteruskan oleh yang bernama Datuq Adil Fredi Aberham, SE (Datuq Sri Setia Diraja). beliau adalah putra dari Datuq Syaiful Abbas Aberham. Keturunan dari Datuq Hafish. Mempunyai mesjid alhafizh yang berdampingan denga istana dan mempunyai nilai sejarah yang sangat kuat kaitannya dengan kuburan Datuq tua yang berada di belakang mesjid alhafizh.
Dan pada saat ini masyarakat kesultanan Datuq Urung Sepuluh Dua Belas Kuta yang diwakili oleh Saudara orang kaya Hatta(Muhammad Hatta) meminta kepada pemerintahan kabupaten deli serdang dan provinsi sumatera utara untuk menetapkan mesjid,istana dan kuburan tua ditetapkan menjadi cagar budaya.
Budaya kesultanan Kerajaan Hamparan Perak yang masih dilestarikan sampai saat ini adanya buka puasa bersama di Mesjid Alhafiz, Nuzul Quran,Halal Bihalal, Ziarah ke Makam Tua dilakukan setiap tahun, sehingga budaya melayu itu terbuka menerima semua kalangan,melayu bukan suku etnis tetapi bangsa. Oleh sebab itu yang dinamakan melayu adalah :
1. Islam
2. Berbahasa Indonesia
3. Beradat Istiadat dan Berbudaya
Dan melayu itu di identik dengan warna Hijau, Kuning dan Putih yang mana Hijau berarti Melambangkan Islam, Kuning melambangkan kemulian dan putih melambangkan kesucian.
Dan keunikan mesjid alhafizh menggunakan ornamen keramik pecah yang mempunyai makna :

1.   Efesiensi keuangan
2.     Menyatukan yang berpecah belah
3.     Produktif dalam silaturahmi
4.      Yang sudah dekat mejadi rapat

Berlangganan update artikel terbaru via email:

1 Response to "Sejarah Kesultanan Melayu Yang Terlupakan"

  1. Termasuk makam mufti kerajaan hamparan perak yang berada di belakang Masjid Raya al Hafidz yaitu Sayyid Abdul Hamid

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...